Senin, 28 Mei 2012

Moment wisuda



Moment wisuda bersama u5...

keponakanku yang pintar dan mandiri




Arum Zahrotul ilmi, itulah nama keponakanku yang saat ini berumur 2,5 tahun. Foto ini diambil ketika dia masih berumur 1,3 tahun. Umur memang masih kecil tapi badannya seperti anak TK. Baru 2,5 tahun aja sudah segede anak TK. Dia tipe anak yang mudah untuk dikasih tau dan mandiri. Buktinya dede begitu aku memanggilnya, sudah  cas cis cus kalau bercerita dan tiap pagi berangkat sekolah PAUD ga mau di antar, maunya berangkat sendiri naik sepeda.
hmmmmm keponakanku smart. miss u dede.... :*

ROB YANG MASIH SETIA


Sejak lahir hingga sekarang aku tinggal di pesisir pantai, tepatnya dekat pantai morosari. Walaupun aku orang pesisir, entah kenapa orang-orang yang baru kenal menyebut aku orang gunung. (jadi bingung) it’s okey dech apa kata orang-orang.
“ Hijau nan asri” begitulah aku menyebut desaku. Rumahku memang di desa, walaupun di desa jangan salah lho banyak tanaman dan area persawahan yang membentang luas, di akhiri dengan pantai yang indah….. aku bersyukur tinggal di desaku. Selain udara masih fresh, rumahku dekat dengan pemerintaha desa, so ga perlu jauh-jauh untuk ngurus KTP ke balai desa, belanja keperluan sehari-hari ke  pasar, ngurus Kartu Keluarga ke kecamatan, menuntut ilmu ke sekolah, ngurus SKCK ke kantor polisi, bahkan ngurus pernikahan ke KUA pun juga dekat. (masih single, so enjoy lah…KUA dekat). #ga’ nyambung. J
Mungkin dulu memang masih pantas kalau aku bilang desaku yang hijau nan asri. Namun, sekarang rasanya tidak pas lagi jika aku menyebut seperti itu. Desa yang hijau kini menjadi desa yang tak lepas dari air pasang tiap hari ( red: rob ). Fenomena air pasang di desaku memang sudah 2 tahun terakhir. 2 tahun yang lalu air pasang memang sudah menghantui desaku, walaupun air tak sampai dekat rumahku karena tanah rumahku lebih tinggi dari tanah-tanah tetanggaku. Kalau tetangga pada ramai dengan air pasang yang sudah di halaman rumah mereka, aku pun bersyukur karena air tersebut baru nyampai di belakang rumah ku yang lumayan jauh, karena belakang rumahku ada kebun pisang, so masih bisa menahan air pasang.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun silih berganti, air pasang makin naik aja. Terbukti jika 2tahun yang lalu hanya di belakang jauh dari rumah, namun setahun yang lalu air pasang atau yang lebih dikenal rob sudah mendekati rumah. Tak jarang pula telinga ini mendengar keluhan para tetangga akan rob tersebut. Bahkan ku dengar pula, desa yang lebih dekat dengan pantai mayoritas warganya sudah mengungsi ke daerah lain. Disinyalir tidak tahan dengan rob yang makin hari makin naik. Desa sebelah juga tak jarang yang membendung rumah mereka dari genangan rob.
Kalian tahu apa yang terjadi saat ini?????? Rob sudah dekat sakali dengan rumahku, kebun pisang teduh pun kini telah mati dan tak tersisa menjadi tanah yang tak terpakai. Bahkan jika rob datang dan tinggi, belakang rumah bagai danau yang siap untuk dipancing ikannya. Tuhan… aku tau tiap tahun volume air laut makin tinggi karena global warming dan es di kutub yang mencair. Entah seperti apa desaku tahun depan. Desa yang dulu hijau nan asri, sawah yang terbentang luas dan segar kini menjadi tambak yang membentang di garis horizontal. Di jalan memang masih hijau dan banyak tanaman, namun di belakang…. Tambak yang senantiasa memanjakan mata kita. Sedih sudah pasti, namun apalah daya… rumah-rumah warga yang tak direnovasi, terpaksa ikhlas menerima air rob yang tiap hari masuk ke dalam rumahnya, jalan antar rumah pun juga ga’ mau kalah… tetap dijamah dengan rob sehingga warga harus rela berjalan di air untuk melakukan aktivitas. Belum lagi nyamuk yang disebabkan karena fenomena rob… nyamuk makin banyak, semut pun juga tak mau kalah dengan populasi nyamuk.
Meskipun rob yang hampir tiap hari, aku tetap bersyukur karena rob di tempatku masih jernih jika dibanding desa tetangga yang hitam, bau, dan kotor bercampur sampah, minyak,dll. Fenomena seperti ini memang sudah memenuhi otakku jauh sebelum rob di tempatku, dan aku berusaha mencari cara menanggulangi jika rob menghampiri. Itulah PR ku sejak dulu yang hanya tersimpan dalam kepalaku. Aku yang dulu hanya mendengar cerita teman-teman yang kosnya pada kebanjiran sampai susah untuk mandi,dsb, kini aku tlah merasakan sendiri. Pertama kali aku memang jijik dengan tempat yang tergenang olehnya, bahkan jalan di tengah-tengah rob pun tak mau. Kini, aku seperti sudah akrab dengan kondisi seperti itu. Aku memang ga’ mau ngerasa akan selamanya jijik terus (red: kemayu) dengan rob, aku pun berusaha untuk menghilangkan rasa itu dalam diriku agar aku bisa menaklukkannya.
Sepertinya rob atau fenomena alam lain berpengaruh positif terhadap sikap masyarakat sekitar. Itulah yang kuamati dari kacamata penglihatanku. Agar alam bersahabat dengan kita, mari kita tetap menjaga sikap kita sesuai dengan adat timur yang masih bisa dikendalikan dan mau bersahabat dengan alam.

Jumat, 13 April 2012

TEACHER - STUDENT


“Bu Indaaah……”
ku dengar panggilan itu dari ex murid ku tiap kali menjemput ibuku di pasar seusai kerja mencari nafkah.

Panggilan murid-muridku itulah yang sering membuat rindu untuk mengajar lagi di salah satu TPQ dekat rumahku. Aku dulu sempat mengajar di lembaga pendidikan islam tersebut sambil menyusun skripsi. Mata kuliah memang sudah terambil semua, sehingga aku hanya konsentrasi pada skripsiku. Hal itu membuat k setiap hari di rumah melulu sampai rasa boring menghampiri dalam diriku.

Suatu malam ketika aku bersinggah di kediaman bulek, ada info kalau sekolah madrasah tersebut membutuhkan tenaga pengajar. “Aku mau jadi pengajar di TPQ tersebut”…… spontan mulut ini nyeletuk bilang seperti itu. Aku memang type orang yang tidak betah menganggur btanpa aktivitas apapun, walaupun sebenarnya kalau di rumah aktivitas banyak banget menggantikan posisi ibu ku yang menjadi ibu rumah tangga. Aku pun segera menemui kepala yayasan pendidikan tersebut untuk menyampaikan niat baik ku.

Subhanallah… beliau welcome dengan niatanku untuk menjadi salah satu guru di yayasan yang dipegang beliau. Dalam kesepakatan tersebut aku mengutarakan bahwa skripsiku takkan mengganggu walaupun masi dalam proses penyusunan.

Hari pertama aku ngajar sempat shock setelah sampai kelas. Aku memang sudah terbiasa ngajar di depan kelas karena sejak semester dua aku sudah menjadi tentor di salah bimbel dekat rumah, selain itu aku juga menjadi asisten dosen di kampus tempat aku menimba ilmu. Kalau biasanya aku mengajar anak SMP sampai mahasiswa, namun kali ini yang kuhadapi adalah anak-anak TK sampai SD kelas tiga. Aku didampingi oleh kepala sekolah madrasah di hari pertama aku mengajar. Di kelas aku bengong karena lafadz-lafadz yang diucapkan sangat asing bagiku dan aku pun tak tahu apa yang dibaca barusan. (maklum guru baru, belum mengetahui kurikulum yang dipakai) #ngeles banget. J

Hari-hari mengajar ku lalui dengan penuh semangat. Murid-muridku itulah yang maembuatku semangat mengajar. “Unyu-unyu” adalah kata yang selalu ada di pikiranku ketika melihat kelas. Anak didikku memang nggemesin, sampai aku cubit pipi salah satu dari mereka. Terkadang rasa canggung untuk ngobrol dengan sesama guru disana muncul di benakku karena aku adalah guru termuda dan ada beberapa yang dulu merupakan guruku TPQ, karena aku adalah alumni disana.

Setelah kurang lebih setengah tahun aku menjadi guru di tempat ku mengajar, aku dihadapkan pada dua pilihan karena aku bekerja di KAP. Syukur alhamdulilah tak henti-henti keluar dari mulut ini karena aku dapat bekerja di KAP. Waktu itu aku mendapat job ngaudit di salah satu instansi dan harus ke instansi tersebut senin-jum’at. Jam kerja juga menyesuaikan jam kerja klien, yakni sampai jam 16.00 WIB. Jarak rumahku sampai klien kurang lebih satu jam kalau naik motor. Itu artinya kalau aku pulang jam segitu, aku ga’ bisa ngajar. Akhirnya kuputuskan untuk resign dari tempatku mengajar karena aku mau totalitas dalam bekerja dan  ga’ mau mengorbankan salah satu. Sebenarnya sangat berat rassanya  untuk resign disana, aku uda nyaman dengan lingkungannya, apalagi murid-muridku yang masih unyu-unyu walaupun tak jarang buat kenakalan di kelas.



MADRASAH PERTAMA BAGI ANAK


Sungguh miris melihat fenomena peran orang tua zaman sekarang. Mereka mengaku sayang kepada anak-anaknya sebagai buah hati mereka, namun mereka tak sadar bahwa mereka telah menjauhkan sang pemberi hidup dari jiwa anak-anak mereka.
Ya, tiap hari mereka mengajari buah hati mereka untuk keperluan pendidikan duniawi (SD, SMP, dan SMA), bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya untuk biaya les atau yang lain. Tak jarang, ketika jadwal sekolah madrasah pun yang hanya satu jam saja per hari, orang tua rela anak-anaknya tidak masuk sekolah madrasah dengan alasan les pelajaran sekolah, les sepak bola, les piano, dan lain-lain. Sungguh menyayat hati  melihat fenomena itu, apalagi kesibukan orang tua mencari nafkah dari pagi sampai sore bahkan tak jarang pula yang sampai rumah dimana  matahari sudah tertidur di ufuk barat sehingga tak sedikit orang tua yang mengambil keputusan agar anak les pelajaran sekolah di bimbel dekat rumah atau bimbel terkemuka karena tidak ada waktu untuk mengajari anak. Mereka berdalih “ aku kan kerja untuk anak, demi kelangsungan hidup mereka. Jadi sah-sah saja kalau anak saya suruh les ini itu dan sekolah madrasah  aku pulang kerja dan  malam baru sampai rumah sehingga tidak sempat mengajari anak”. Kapan waktu yang diberikan untuk anak-anaknya, bukankah orang tua wajib mengajarkan ilmu agama kepada anak, dan anak pun berhak menerima perhatian dan pengajaran baik ilmu dunia maupun akhirat?  Sekolah umum, kuliah, les pelajaran sekolah, les voli, les piano, les drum, les bahasa asing dan sebagainya memang penting karena itu dapat menggali potensi mereka sehingga bisa dijadikan bekal kelak ketika dewasa. Akan tetapi sadarkah orang tua zaman sekarang? Hal itu tidak diimbangi dengan pengetahuan agama. Ya…. mungkin bagi mereka yang menyekolahkan madrasah anaknya dimana satu hari hanya satu jam, itupun tak jarang seminggu tidak masuk beberapa kali dengan alasan les ini itu sedangkan di rumah orang tua tak cukup waktu hanya untuk sekedar mengajarkan ilmu agama.
            Tulisan diatas terinspirasi ketika mendengar salah satu pengakuan dari anak kecil yang belajar ngaji namun lebih dari seminggu dia tidak menunjukkan peningkatan mengajinya. Ternyata di rumah dia hanya diajarkan pendidikan duniawi saja, sedangkan ilmu agama jarang diajarkan.
            “Seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”
            Bagi kaum hawa yang akan menjadi calon istri dan calon ibu, apakah kalian rela jika anak-anak kita kelak ahli ilmu duniawi dan miskin ilmu akherat? Tentu saja tak ada yang rela dengan hal itu.

Jumat, 20 Januari 2012

Sensasi Skripsi


Hari-hari telah berlalu dan tak terasa  satu bulan skripsi masih belum tersentuh  sejak daftar skripsi satu bulan yang lalu. Ya, satu bulan dininabobokan dengan virus malas. Virus tersebut sepertinya sudah PeWe di tubuhku hingga tak sadar satu bulan berjalan dengan sia-sia dan belum ada motivasi untuk menjamah skripsi. Entah semangat skripsi kali ini tak seperti proposal dulu sekalipun ku dengar teman-teman sudah mulai mengerjakan, bahkan sudah tahap pengolahan, serta pembahasan hipotesis. Sementara aku, aku yang masih terlena dengan kemalasan ini tak segera tergugah tuk sekedar membaca laporan keuangan, ICMD, ataupun annual report perusahaan yang  menjadi sampel dalam penelitianku.
            Ku paksakan diri ini hanya untuk sekedar membaca proposal yang  dulu kubuat dan jurnal acuanku untuk memulai memompa semangat, karena ku teringat kata-kata seorang sahabat yang  sedikit memberiku motivasi  yang intinya  “uang berserakan mudah dicari, tapi semangat yang berserakan hanya kita lah yang dapat mengumpulkan kembali”. Beberapa hari berjalan, barulah sedikit demi sedikit ku mendekat dengan  laporan keuangan, ICMD, dan annual report sampai membuat mata ku jadi keriting karenanya. Ya, berjam-jam lamanya mata ini dihadapkan dengan computer yang setia menemaniku dikala confuse dengan data yang tak kunjung selesai ku input. Walaupun sehari hanya lima sampai tujuh perusahaan yang diinput, namun lama-lama selesai juga.
            Input data sudah selesai, saatnya pengolahan data. Kali ini rasa confuse menghampiri dan sempat buatku hampir setres dibuatnya. “AUTOKORELASI” itulah penyakit data penelitianku yang tak kunjung sembuh. Kulihat kalender  yang menunujukkan awal bulan November. Referensi buku SPSS pun kucari di perpus dan ternyata sudah habis dipinjam mahasiswa lain yang juga menempuh skripsi seperti aku. Semangat pun semakin luntur untuk segera menyelesaikan penelitian, ketika ada keperluan di fakultas, kusempatkan untuk mencari referensi buku untuk mengobati penyakit data ku yang tak kunjung sembuh. Subhanallah, buku yang kucari sudah kudapatkan dan ada sepercik harapan untuk segera mengobati penyakit itu. Lagi-lagi kesabaranku diuji, jangankan mengobati, memahami cara pengobatan pun buatku garuk-garuk kepala. Boleh jadi kebingungan masi menyelinap dalam otakku, lalu segera ku hubungi rudi, teman sekelasku yang pernah mengobati penyakit yang sama. Setelah dapat pencerahan dari dia, malamnya kupraktekkan pengobatan tersebut. Namun apalah daya, ku hanya bisa pandangi buku dan computer teman setiaku dikala malam. Lagi-lagi Allah menguji kesabaranku. Tak kehilangan cara, aku pun menghadap dosen pembimbing sekedar konsultasi pengobatan penyakit data ku yang tak kunjung sembuh.
            Satu minggu berlalu, penyakit itu masih setia menempel di data ku. Setres mulai di ujung ubun-ubun dan sepertinya pertolongan Allah datang kepadaku. Aku pun mendapat jurnal dari ka unil untuk memecahkan masalah yang memenuhi otakku beberapa minggu ini. Terlihat bibir yang mengembang dari kaca computer. Alhamdulilah…. Kata yang keluar dari bibir ku.
Data sudah normal. It’s show time……!!!!!
Saatnya mulai membaca output dan memulai mengetik bab 4 PEMBAHASAN. Kembali lagi mata ini keriting di depan computer berjam-jam. Ku dengar ujian skripsi bulan November sebentar lagi, segera ku tancap gas untuk segera menyelesaikan skripsi ku. Ketika tangan masi sayikmengetik tiba-tiba terdengar dari balik ruang “mengerjakannya dilanjutkan besok saja, sekarang sudah larut malam waktunya tidur”  kata yang diucapkan oleh Ayahanda tercinta. Tak peduli nasehat orang tua yang hampir  tiap hari ku dengar kata yang sama seperti itu. Merasa sudah cukup, barulah kuberanikan diri untuk bimbingan dengan Mr. Perfectionist. Ya, begitulah aku menyebut dosen pembimbingku karena beliau benar-benar perfectionist. Lagi-lagi ku harus memecahkan masalah dan kali ini benar-benar buatku memutar otak. Dari 20 hipotesis, yang diterima hanya 3, dan aku pun hanya bisa tersenyum di hadapan Mr. Perfectionist karena confuse. Berhari-hari mencari alasan ilmiah dari 20 hipotesis namun, tak satu pun yang ku selesaikan. Putus asa pun hampir singgah di diriku, tiba-tiba terlintas di benakku untuk konsultasi dengan dosen yang ku anggap bisa memberi pencerahan masalah yang buatku hampir stress tiap hari.
“La Haulawala Quwwata Illa billahil ‘aliyyil ‘adzim” kata yang keluar dari bibir ku. Satu per satu kuselesaikan alasan ilmiah itu. Setelah seminggu vacuum dari hadapan Mr. Perfectionist, barulah sekarang memberanikan diri bimbingan yang tentunya dengan hati was-was takut  alasan yang kubuat tak diterima beliau. Rabbana…. Tak tanggung-tanggung, aku didadar sama beliau dan hanya bisa senyum mendengar kata-kata godogan dari beliau, aku pun seperti orang tanpa dosa yang hanya bisa senyam-senyum. Serasa tertimpa beban satu ton di kepalaku yang mengharuskan aku memutar otak lagi mencari alasan ilmiah. Akhir bulan pun telah dekat dan skripsiku belum selesai, mungkin memang ujian desember  yang terbaik menurut Allah.
 Melihat teman-teman ujian skripsi bulan November buat diri ini semangat namun apalah daya lagi-lagi semangat mulai luntur  karena waktu yang tersisa hanya 2 minggu sebelum sampai batas akhir pendaftaran ujian skripsi. Hanya 2 minggu, waktu yang ada untuk mengejar dan meyakinkan Mr. Perfectionist.  Aku pun ragu untuk dapat meyakinkan beliau. Keraguanku memuncak seketika teringat jatuh bangunku 2 bulan mengejar beliau ketika proposal dulu. Ku coba hilangkan semua keraguanku sampai sebuah kata yang keluar dari ayah yang buatku tancap gas lagi tuk selesaikan skripsi. Ya, aku bertekat untuk ujian skripsi akhir tahun. Tak kenal lelah, tak kenal pagi, siang, bahkan malam diri ini berusaha menyelesaikannya. Aku pun mulai intens bimbingan. Sambil menyelam minum air, itulah yang sering kulakukan ketika konsultasi asisten dengan beliau, aku juga konsultasi skripsiku.
Sebelum bimbingan sudah seperti biasa buat janji dulu sama beliau. Terkadang, sms tak dibalas, telpon tak diangkat, segera keluarkan jurus jitu. Kata orang jawa “ndableg” dan nyelonong masuk ruangan beliau. Itulah jurus yang kugunakan dan sangat ampuh tiap kali bimbingan, tak peduli anggapan beliau yang penting  aku bisa bimbingan.
 Setiap bimbingan selalu kutanyakan kemungkinanku untuk ujian bulan desember.  Selang beberapa hari terdengar kata “kalau sudah selesai ya bisa to ujian desember” .  Itulah kata yang masih teringat dalam otakku, kata yang  keluar dari Mr. Perfectionis itu. Semangat ku pun semakin ku pompa agar skripsi ku cepat selesai dan lagi-lagi kupastikan kemungkinanku untuk ujian Desember tiap kali bimbingan.
Subhanallah….
Aku dipastikan bisa ujian skripsi bulan Desember oleh beliau. Segera kuselesaikan revisi-revisi dari beliau. Pendaftaran kurang 5 hari lagi dan aku shock dibuat Mr. Perfectionist. Teori ku di obrak-abrik.
 Rabbana….. Jika Engkau menghendaki hamba ujian Desember maka mudahkanlah hamba-Mu ini ya Rabb.. La Haulawala Quwwata Illa Billah….. kalimat yang setiap hari keluar dari bibir ini. Orangtuaku yang tak henti-hentinya memberikan support dan meyakinkan aku untuk bisa ujian bulan desember. H-2 kuputuskan untuk bimbingan lagi berharap esok hari dapat ACC karena terakhir daftar. Bagai bunga yang tiba-tiba layu, skripsi ku belum juga di ACC, segera ku loby TU yang mengurusi pendaftaran skripsi dan Alhamdulilah….. senin aku dijanjikan ACC dan bisa ikut ujian Desember.
Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan dari Allah…. Serasa tak percaya aku bisa mengejar dan meyakinkan seorang perfectionist dalam waktu 2 minggu yang semula sangat kuragukan dengan waktu yang sependek itu.
Atas ijin Allah, dapat ku selesaikan skripsi dalam waktu 1 bulan dan mengejar Mr. Perfectionist dalam waktu sesingkat itu. Baru ku sadari, aku bisa mematahkan anggapan di kalangan mahasiswa baik senior maupun seangkatan yang menganggap ujian skripsi /proposal pasti lama kalau dapat dosen pembimbing beliau. Kata pepatah jawa “ Jer Basuki Mawa Bea”