Hari-hari telah berlalu
dan tak terasa satu bulan skripsi masih
belum tersentuh sejak daftar skripsi
satu bulan yang lalu. Ya, satu bulan dininabobokan dengan virus malas. Virus
tersebut sepertinya sudah PeWe di tubuhku hingga tak sadar satu bulan berjalan
dengan sia-sia dan belum ada motivasi untuk menjamah skripsi. Entah semangat
skripsi kali ini tak seperti proposal dulu sekalipun ku dengar teman-teman
sudah mulai mengerjakan, bahkan sudah tahap pengolahan, serta pembahasan
hipotesis. Sementara aku, aku yang masih terlena dengan kemalasan ini tak
segera tergugah tuk sekedar membaca laporan keuangan, ICMD, ataupun annual report perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitianku.
Ku paksakan diri ini hanya untuk sekedar membaca proposal
yang dulu kubuat dan jurnal acuanku
untuk memulai memompa semangat, karena ku teringat kata-kata seorang sahabat
yang sedikit memberiku motivasi yang intinya
“uang berserakan mudah dicari, tapi semangat yang berserakan hanya kita
lah yang dapat mengumpulkan kembali”. Beberapa hari berjalan, barulah sedikit
demi sedikit ku mendekat dengan laporan
keuangan, ICMD, dan annual report sampai
membuat mata ku jadi keriting karenanya. Ya, berjam-jam lamanya mata ini dihadapkan
dengan computer yang setia menemaniku dikala confuse dengan data yang tak kunjung selesai ku input. Walaupun
sehari hanya lima sampai tujuh perusahaan yang diinput, namun lama-lama selesai
juga.
Input data sudah selesai, saatnya pengolahan data. Kali
ini rasa confuse menghampiri dan sempat
buatku hampir setres dibuatnya. “AUTOKORELASI” itulah penyakit data
penelitianku yang tak kunjung sembuh. Kulihat kalender yang menunujukkan awal bulan November.
Referensi buku SPSS pun kucari di perpus dan ternyata sudah habis dipinjam
mahasiswa lain yang juga menempuh skripsi seperti aku. Semangat pun semakin
luntur untuk segera menyelesaikan penelitian, ketika ada keperluan di fakultas,
kusempatkan untuk mencari referensi buku untuk mengobati penyakit data ku yang
tak kunjung sembuh. Subhanallah, buku yang kucari sudah kudapatkan dan ada
sepercik harapan untuk segera mengobati penyakit itu. Lagi-lagi kesabaranku
diuji, jangankan mengobati, memahami cara pengobatan pun buatku garuk-garuk
kepala. Boleh jadi kebingungan masi menyelinap dalam otakku, lalu segera ku
hubungi rudi, teman sekelasku yang pernah mengobati penyakit yang sama. Setelah
dapat pencerahan dari dia, malamnya kupraktekkan pengobatan tersebut. Namun
apalah daya, ku hanya bisa pandangi buku dan computer teman setiaku dikala
malam. Lagi-lagi Allah menguji kesabaranku. Tak kehilangan cara, aku pun
menghadap dosen pembimbing sekedar konsultasi pengobatan penyakit data ku yang
tak kunjung sembuh.
Satu minggu berlalu, penyakit itu masih setia menempel di
data ku. Setres mulai di ujung ubun-ubun dan sepertinya pertolongan Allah
datang kepadaku. Aku pun mendapat jurnal dari ka unil untuk memecahkan masalah
yang memenuhi otakku beberapa minggu ini. Terlihat bibir yang mengembang dari
kaca computer. Alhamdulilah…. Kata yang keluar dari bibir ku.
Data
sudah normal. It’s show time……!!!!!
Saatnya
mulai membaca output dan memulai mengetik bab 4 PEMBAHASAN. Kembali lagi mata
ini keriting di depan computer berjam-jam. Ku dengar ujian skripsi bulan
November sebentar lagi, segera ku tancap gas untuk segera menyelesaikan skripsi
ku. Ketika tangan masi sayikmengetik tiba-tiba terdengar dari balik ruang “mengerjakannya
dilanjutkan besok saja, sekarang sudah larut malam waktunya tidur” kata yang diucapkan oleh Ayahanda tercinta. Tak
peduli nasehat orang tua yang hampir
tiap hari ku dengar kata yang sama seperti itu. Merasa sudah cukup,
barulah kuberanikan diri untuk bimbingan dengan Mr. Perfectionist. Ya, begitulah
aku menyebut dosen pembimbingku karena beliau benar-benar perfectionist.
Lagi-lagi ku harus memecahkan masalah dan kali ini benar-benar buatku memutar
otak. Dari 20 hipotesis, yang diterima hanya 3, dan aku pun hanya bisa
tersenyum di hadapan Mr. Perfectionist karena confuse. Berhari-hari mencari alasan ilmiah dari 20 hipotesis
namun, tak satu pun yang ku selesaikan. Putus asa pun hampir singgah di diriku,
tiba-tiba terlintas di benakku untuk konsultasi dengan dosen yang ku anggap
bisa memberi pencerahan masalah yang buatku hampir stress tiap hari.
“La
Haulawala Quwwata Illa billahil ‘aliyyil ‘adzim” kata yang keluar dari bibir
ku. Satu per satu kuselesaikan alasan ilmiah itu. Setelah seminggu vacuum dari
hadapan Mr. Perfectionist, barulah sekarang memberanikan diri bimbingan yang
tentunya dengan hati was-was takut
alasan yang kubuat tak diterima beliau. Rabbana…. Tak tanggung-tanggung,
aku didadar sama beliau dan hanya bisa senyum mendengar kata-kata godogan dari
beliau, aku pun seperti orang tanpa dosa yang hanya bisa senyam-senyum. Serasa
tertimpa beban satu ton di kepalaku yang mengharuskan aku memutar otak lagi
mencari alasan ilmiah. Akhir bulan pun telah dekat dan skripsiku belum selesai,
mungkin memang ujian desember yang
terbaik menurut Allah.
Melihat teman-teman ujian skripsi bulan
November buat diri ini semangat namun apalah daya lagi-lagi semangat mulai
luntur karena waktu yang tersisa hanya 2
minggu sebelum sampai batas akhir pendaftaran ujian skripsi. Hanya 2 minggu,
waktu yang ada untuk mengejar dan meyakinkan Mr. Perfectionist. Aku pun ragu untuk dapat meyakinkan beliau.
Keraguanku memuncak seketika teringat jatuh bangunku 2 bulan mengejar beliau
ketika proposal dulu. Ku coba hilangkan semua keraguanku sampai sebuah kata
yang keluar dari ayah yang buatku tancap gas lagi tuk selesaikan skripsi. Ya,
aku bertekat untuk ujian skripsi akhir tahun. Tak kenal lelah, tak kenal pagi,
siang, bahkan malam diri ini berusaha menyelesaikannya. Aku pun mulai intens
bimbingan. Sambil menyelam minum air, itulah yang sering kulakukan ketika
konsultasi asisten dengan beliau, aku juga konsultasi skripsiku.
Sebelum
bimbingan sudah seperti biasa buat janji dulu sama beliau. Terkadang, sms tak
dibalas, telpon tak diangkat, segera keluarkan jurus jitu. Kata orang jawa
“ndableg” dan nyelonong masuk ruangan beliau. Itulah jurus yang kugunakan dan
sangat ampuh tiap kali bimbingan, tak peduli anggapan beliau yang penting aku bisa bimbingan.
Setiap bimbingan selalu kutanyakan
kemungkinanku untuk ujian bulan desember. Selang beberapa hari terdengar kata “kalau
sudah selesai ya bisa to ujian desember” .
Itulah kata yang masih teringat dalam otakku, kata yang keluar dari Mr. Perfectionis itu. Semangat ku
pun semakin ku pompa agar skripsi ku cepat selesai dan lagi-lagi kupastikan
kemungkinanku untuk ujian Desember tiap kali bimbingan.
Subhanallah….
Aku
dipastikan bisa ujian skripsi bulan Desember oleh beliau. Segera kuselesaikan
revisi-revisi dari beliau. Pendaftaran kurang 5 hari lagi dan aku shock dibuat
Mr. Perfectionist. Teori ku di obrak-abrik.
Rabbana….. Jika Engkau menghendaki hamba ujian
Desember maka mudahkanlah hamba-Mu ini ya Rabb.. La Haulawala Quwwata Illa
Billah….. kalimat yang setiap hari keluar dari bibir ini. Orangtuaku yang tak
henti-hentinya memberikan support dan meyakinkan aku untuk bisa ujian bulan
desember. H-2 kuputuskan untuk bimbingan lagi berharap esok hari dapat ACC
karena terakhir daftar. Bagai bunga yang tiba-tiba layu, skripsi ku belum juga
di ACC, segera ku loby TU yang mengurusi pendaftaran skripsi dan
Alhamdulilah….. senin aku dijanjikan ACC dan bisa ikut ujian Desember.
Tiada
daya dan upaya kecuali pertolongan dari Allah…. Serasa tak percaya aku bisa
mengejar dan meyakinkan seorang perfectionist dalam waktu 2 minggu yang semula
sangat kuragukan dengan waktu yang sependek itu.
Atas
ijin Allah, dapat ku selesaikan skripsi dalam waktu 1 bulan dan mengejar Mr.
Perfectionist dalam waktu sesingkat itu. Baru ku sadari, aku bisa mematahkan
anggapan di kalangan mahasiswa baik senior maupun seangkatan yang menganggap
ujian skripsi /proposal pasti lama kalau dapat dosen pembimbing beliau. Kata
pepatah jawa “ Jer Basuki Mawa Bea”
barakallah....+_+
BalasHapus(mata positif thingking nich)
hore2..namaku disebut..oye..oye..jadi orang terkenal...asek..asek...ada nama rudi n uni...:D