Sejak lahir hingga sekarang aku
tinggal di pesisir pantai, tepatnya dekat pantai morosari. Walaupun aku orang
pesisir, entah kenapa orang-orang yang baru kenal menyebut aku orang gunung. (jadi
bingung) it’s okey dech apa kata orang-orang.
“ Hijau nan
asri” begitulah aku menyebut desaku. Rumahku memang di desa, walaupun di desa
jangan salah lho banyak tanaman dan area persawahan yang membentang luas, di
akhiri dengan pantai yang indah….. aku bersyukur tinggal di desaku. Selain
udara masih fresh, rumahku dekat dengan pemerintaha desa, so ga perlu jauh-jauh
untuk ngurus KTP ke balai desa, belanja keperluan sehari-hari ke pasar, ngurus Kartu Keluarga ke kecamatan, menuntut
ilmu ke sekolah, ngurus SKCK ke kantor polisi, bahkan ngurus pernikahan ke KUA
pun juga dekat. (masih single, so enjoy lah…KUA dekat). #ga’ nyambung. J
Mungkin dulu
memang masih pantas kalau aku bilang desaku yang hijau nan asri. Namun,
sekarang rasanya tidak pas lagi jika aku menyebut seperti itu. Desa yang hijau
kini menjadi desa yang tak lepas dari air pasang tiap hari ( red: rob ).
Fenomena air pasang di desaku memang sudah 2 tahun terakhir. 2 tahun yang lalu
air pasang memang sudah menghantui desaku, walaupun air tak sampai dekat
rumahku karena tanah rumahku lebih tinggi dari tanah-tanah tetanggaku. Kalau
tetangga pada ramai dengan air pasang yang sudah di halaman rumah mereka, aku
pun bersyukur karena air tersebut baru nyampai di belakang rumah ku yang
lumayan jauh, karena belakang rumahku ada kebun pisang, so masih bisa menahan
air pasang.
Hari demi hari,
bulan demi bulan, tahun silih berganti, air pasang makin naik aja. Terbukti
jika 2tahun yang lalu hanya di belakang jauh dari rumah, namun setahun yang
lalu air pasang atau yang lebih dikenal rob sudah mendekati rumah. Tak jarang
pula telinga ini mendengar keluhan para tetangga akan rob tersebut. Bahkan ku
dengar pula, desa yang lebih dekat dengan pantai mayoritas warganya sudah
mengungsi ke daerah lain. Disinyalir tidak tahan dengan rob yang makin hari makin
naik. Desa sebelah juga tak jarang yang membendung rumah mereka dari genangan
rob.
Kalian tahu apa
yang terjadi saat ini?????? Rob sudah dekat sakali dengan rumahku, kebun pisang
teduh pun kini telah mati dan tak tersisa menjadi tanah yang tak terpakai.
Bahkan jika rob datang dan tinggi, belakang rumah bagai danau yang siap untuk
dipancing ikannya. Tuhan… aku tau tiap tahun volume air laut makin tinggi
karena global warming dan es di kutub yang mencair. Entah seperti apa desaku
tahun depan. Desa yang dulu hijau nan asri, sawah yang terbentang luas dan
segar kini menjadi tambak yang membentang di garis horizontal. Di jalan memang
masih hijau dan banyak tanaman, namun di belakang…. Tambak yang senantiasa
memanjakan mata kita. Sedih sudah pasti, namun apalah daya… rumah-rumah warga
yang tak direnovasi, terpaksa ikhlas menerima air rob yang tiap hari masuk ke
dalam rumahnya, jalan antar rumah pun juga ga’ mau kalah… tetap dijamah dengan
rob sehingga warga harus rela berjalan di air untuk melakukan aktivitas. Belum
lagi nyamuk yang disebabkan karena fenomena rob… nyamuk makin banyak, semut pun
juga tak mau kalah dengan populasi nyamuk.
Meskipun rob
yang hampir tiap hari, aku tetap bersyukur karena rob di tempatku masih jernih
jika dibanding desa tetangga yang hitam, bau, dan kotor bercampur sampah,
minyak,dll. Fenomena seperti ini memang sudah memenuhi otakku jauh sebelum rob
di tempatku, dan aku berusaha mencari cara menanggulangi jika rob menghampiri.
Itulah PR ku sejak dulu yang hanya tersimpan dalam kepalaku. Aku yang dulu
hanya mendengar cerita teman-teman yang kosnya pada kebanjiran sampai susah
untuk mandi,dsb, kini aku tlah merasakan sendiri. Pertama kali aku memang jijik
dengan tempat yang tergenang olehnya, bahkan jalan di tengah-tengah rob pun tak
mau. Kini, aku seperti sudah akrab dengan kondisi seperti itu. Aku memang ga’
mau ngerasa akan selamanya jijik terus (red: kemayu) dengan rob, aku pun
berusaha untuk menghilangkan rasa itu dalam diriku agar aku bisa
menaklukkannya.
Sepertinya rob
atau fenomena alam lain berpengaruh positif terhadap sikap masyarakat sekitar.
Itulah yang kuamati dari kacamata penglihatanku. Agar alam bersahabat dengan
kita, mari kita tetap menjaga sikap kita sesuai dengan adat timur yang masih
bisa dikendalikan dan mau bersahabat dengan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar