Senin, 28 Mei 2012

ROB YANG MASIH SETIA


Sejak lahir hingga sekarang aku tinggal di pesisir pantai, tepatnya dekat pantai morosari. Walaupun aku orang pesisir, entah kenapa orang-orang yang baru kenal menyebut aku orang gunung. (jadi bingung) it’s okey dech apa kata orang-orang.
“ Hijau nan asri” begitulah aku menyebut desaku. Rumahku memang di desa, walaupun di desa jangan salah lho banyak tanaman dan area persawahan yang membentang luas, di akhiri dengan pantai yang indah….. aku bersyukur tinggal di desaku. Selain udara masih fresh, rumahku dekat dengan pemerintaha desa, so ga perlu jauh-jauh untuk ngurus KTP ke balai desa, belanja keperluan sehari-hari ke  pasar, ngurus Kartu Keluarga ke kecamatan, menuntut ilmu ke sekolah, ngurus SKCK ke kantor polisi, bahkan ngurus pernikahan ke KUA pun juga dekat. (masih single, so enjoy lah…KUA dekat). #ga’ nyambung. J
Mungkin dulu memang masih pantas kalau aku bilang desaku yang hijau nan asri. Namun, sekarang rasanya tidak pas lagi jika aku menyebut seperti itu. Desa yang hijau kini menjadi desa yang tak lepas dari air pasang tiap hari ( red: rob ). Fenomena air pasang di desaku memang sudah 2 tahun terakhir. 2 tahun yang lalu air pasang memang sudah menghantui desaku, walaupun air tak sampai dekat rumahku karena tanah rumahku lebih tinggi dari tanah-tanah tetanggaku. Kalau tetangga pada ramai dengan air pasang yang sudah di halaman rumah mereka, aku pun bersyukur karena air tersebut baru nyampai di belakang rumah ku yang lumayan jauh, karena belakang rumahku ada kebun pisang, so masih bisa menahan air pasang.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun silih berganti, air pasang makin naik aja. Terbukti jika 2tahun yang lalu hanya di belakang jauh dari rumah, namun setahun yang lalu air pasang atau yang lebih dikenal rob sudah mendekati rumah. Tak jarang pula telinga ini mendengar keluhan para tetangga akan rob tersebut. Bahkan ku dengar pula, desa yang lebih dekat dengan pantai mayoritas warganya sudah mengungsi ke daerah lain. Disinyalir tidak tahan dengan rob yang makin hari makin naik. Desa sebelah juga tak jarang yang membendung rumah mereka dari genangan rob.
Kalian tahu apa yang terjadi saat ini?????? Rob sudah dekat sakali dengan rumahku, kebun pisang teduh pun kini telah mati dan tak tersisa menjadi tanah yang tak terpakai. Bahkan jika rob datang dan tinggi, belakang rumah bagai danau yang siap untuk dipancing ikannya. Tuhan… aku tau tiap tahun volume air laut makin tinggi karena global warming dan es di kutub yang mencair. Entah seperti apa desaku tahun depan. Desa yang dulu hijau nan asri, sawah yang terbentang luas dan segar kini menjadi tambak yang membentang di garis horizontal. Di jalan memang masih hijau dan banyak tanaman, namun di belakang…. Tambak yang senantiasa memanjakan mata kita. Sedih sudah pasti, namun apalah daya… rumah-rumah warga yang tak direnovasi, terpaksa ikhlas menerima air rob yang tiap hari masuk ke dalam rumahnya, jalan antar rumah pun juga ga’ mau kalah… tetap dijamah dengan rob sehingga warga harus rela berjalan di air untuk melakukan aktivitas. Belum lagi nyamuk yang disebabkan karena fenomena rob… nyamuk makin banyak, semut pun juga tak mau kalah dengan populasi nyamuk.
Meskipun rob yang hampir tiap hari, aku tetap bersyukur karena rob di tempatku masih jernih jika dibanding desa tetangga yang hitam, bau, dan kotor bercampur sampah, minyak,dll. Fenomena seperti ini memang sudah memenuhi otakku jauh sebelum rob di tempatku, dan aku berusaha mencari cara menanggulangi jika rob menghampiri. Itulah PR ku sejak dulu yang hanya tersimpan dalam kepalaku. Aku yang dulu hanya mendengar cerita teman-teman yang kosnya pada kebanjiran sampai susah untuk mandi,dsb, kini aku tlah merasakan sendiri. Pertama kali aku memang jijik dengan tempat yang tergenang olehnya, bahkan jalan di tengah-tengah rob pun tak mau. Kini, aku seperti sudah akrab dengan kondisi seperti itu. Aku memang ga’ mau ngerasa akan selamanya jijik terus (red: kemayu) dengan rob, aku pun berusaha untuk menghilangkan rasa itu dalam diriku agar aku bisa menaklukkannya.
Sepertinya rob atau fenomena alam lain berpengaruh positif terhadap sikap masyarakat sekitar. Itulah yang kuamati dari kacamata penglihatanku. Agar alam bersahabat dengan kita, mari kita tetap menjaga sikap kita sesuai dengan adat timur yang masih bisa dikendalikan dan mau bersahabat dengan alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar