Jumat, 20 Januari 2012

Sensasi Skripsi


Hari-hari telah berlalu dan tak terasa  satu bulan skripsi masih belum tersentuh  sejak daftar skripsi satu bulan yang lalu. Ya, satu bulan dininabobokan dengan virus malas. Virus tersebut sepertinya sudah PeWe di tubuhku hingga tak sadar satu bulan berjalan dengan sia-sia dan belum ada motivasi untuk menjamah skripsi. Entah semangat skripsi kali ini tak seperti proposal dulu sekalipun ku dengar teman-teman sudah mulai mengerjakan, bahkan sudah tahap pengolahan, serta pembahasan hipotesis. Sementara aku, aku yang masih terlena dengan kemalasan ini tak segera tergugah tuk sekedar membaca laporan keuangan, ICMD, ataupun annual report perusahaan yang  menjadi sampel dalam penelitianku.
            Ku paksakan diri ini hanya untuk sekedar membaca proposal yang  dulu kubuat dan jurnal acuanku untuk memulai memompa semangat, karena ku teringat kata-kata seorang sahabat yang  sedikit memberiku motivasi  yang intinya  “uang berserakan mudah dicari, tapi semangat yang berserakan hanya kita lah yang dapat mengumpulkan kembali”. Beberapa hari berjalan, barulah sedikit demi sedikit ku mendekat dengan  laporan keuangan, ICMD, dan annual report sampai membuat mata ku jadi keriting karenanya. Ya, berjam-jam lamanya mata ini dihadapkan dengan computer yang setia menemaniku dikala confuse dengan data yang tak kunjung selesai ku input. Walaupun sehari hanya lima sampai tujuh perusahaan yang diinput, namun lama-lama selesai juga.
            Input data sudah selesai, saatnya pengolahan data. Kali ini rasa confuse menghampiri dan sempat buatku hampir setres dibuatnya. “AUTOKORELASI” itulah penyakit data penelitianku yang tak kunjung sembuh. Kulihat kalender  yang menunujukkan awal bulan November. Referensi buku SPSS pun kucari di perpus dan ternyata sudah habis dipinjam mahasiswa lain yang juga menempuh skripsi seperti aku. Semangat pun semakin luntur untuk segera menyelesaikan penelitian, ketika ada keperluan di fakultas, kusempatkan untuk mencari referensi buku untuk mengobati penyakit data ku yang tak kunjung sembuh. Subhanallah, buku yang kucari sudah kudapatkan dan ada sepercik harapan untuk segera mengobati penyakit itu. Lagi-lagi kesabaranku diuji, jangankan mengobati, memahami cara pengobatan pun buatku garuk-garuk kepala. Boleh jadi kebingungan masi menyelinap dalam otakku, lalu segera ku hubungi rudi, teman sekelasku yang pernah mengobati penyakit yang sama. Setelah dapat pencerahan dari dia, malamnya kupraktekkan pengobatan tersebut. Namun apalah daya, ku hanya bisa pandangi buku dan computer teman setiaku dikala malam. Lagi-lagi Allah menguji kesabaranku. Tak kehilangan cara, aku pun menghadap dosen pembimbing sekedar konsultasi pengobatan penyakit data ku yang tak kunjung sembuh.
            Satu minggu berlalu, penyakit itu masih setia menempel di data ku. Setres mulai di ujung ubun-ubun dan sepertinya pertolongan Allah datang kepadaku. Aku pun mendapat jurnal dari ka unil untuk memecahkan masalah yang memenuhi otakku beberapa minggu ini. Terlihat bibir yang mengembang dari kaca computer. Alhamdulilah…. Kata yang keluar dari bibir ku.
Data sudah normal. It’s show time……!!!!!
Saatnya mulai membaca output dan memulai mengetik bab 4 PEMBAHASAN. Kembali lagi mata ini keriting di depan computer berjam-jam. Ku dengar ujian skripsi bulan November sebentar lagi, segera ku tancap gas untuk segera menyelesaikan skripsi ku. Ketika tangan masi sayikmengetik tiba-tiba terdengar dari balik ruang “mengerjakannya dilanjutkan besok saja, sekarang sudah larut malam waktunya tidur”  kata yang diucapkan oleh Ayahanda tercinta. Tak peduli nasehat orang tua yang hampir  tiap hari ku dengar kata yang sama seperti itu. Merasa sudah cukup, barulah kuberanikan diri untuk bimbingan dengan Mr. Perfectionist. Ya, begitulah aku menyebut dosen pembimbingku karena beliau benar-benar perfectionist. Lagi-lagi ku harus memecahkan masalah dan kali ini benar-benar buatku memutar otak. Dari 20 hipotesis, yang diterima hanya 3, dan aku pun hanya bisa tersenyum di hadapan Mr. Perfectionist karena confuse. Berhari-hari mencari alasan ilmiah dari 20 hipotesis namun, tak satu pun yang ku selesaikan. Putus asa pun hampir singgah di diriku, tiba-tiba terlintas di benakku untuk konsultasi dengan dosen yang ku anggap bisa memberi pencerahan masalah yang buatku hampir stress tiap hari.
“La Haulawala Quwwata Illa billahil ‘aliyyil ‘adzim” kata yang keluar dari bibir ku. Satu per satu kuselesaikan alasan ilmiah itu. Setelah seminggu vacuum dari hadapan Mr. Perfectionist, barulah sekarang memberanikan diri bimbingan yang tentunya dengan hati was-was takut  alasan yang kubuat tak diterima beliau. Rabbana…. Tak tanggung-tanggung, aku didadar sama beliau dan hanya bisa senyum mendengar kata-kata godogan dari beliau, aku pun seperti orang tanpa dosa yang hanya bisa senyam-senyum. Serasa tertimpa beban satu ton di kepalaku yang mengharuskan aku memutar otak lagi mencari alasan ilmiah. Akhir bulan pun telah dekat dan skripsiku belum selesai, mungkin memang ujian desember  yang terbaik menurut Allah.
 Melihat teman-teman ujian skripsi bulan November buat diri ini semangat namun apalah daya lagi-lagi semangat mulai luntur  karena waktu yang tersisa hanya 2 minggu sebelum sampai batas akhir pendaftaran ujian skripsi. Hanya 2 minggu, waktu yang ada untuk mengejar dan meyakinkan Mr. Perfectionist.  Aku pun ragu untuk dapat meyakinkan beliau. Keraguanku memuncak seketika teringat jatuh bangunku 2 bulan mengejar beliau ketika proposal dulu. Ku coba hilangkan semua keraguanku sampai sebuah kata yang keluar dari ayah yang buatku tancap gas lagi tuk selesaikan skripsi. Ya, aku bertekat untuk ujian skripsi akhir tahun. Tak kenal lelah, tak kenal pagi, siang, bahkan malam diri ini berusaha menyelesaikannya. Aku pun mulai intens bimbingan. Sambil menyelam minum air, itulah yang sering kulakukan ketika konsultasi asisten dengan beliau, aku juga konsultasi skripsiku.
Sebelum bimbingan sudah seperti biasa buat janji dulu sama beliau. Terkadang, sms tak dibalas, telpon tak diangkat, segera keluarkan jurus jitu. Kata orang jawa “ndableg” dan nyelonong masuk ruangan beliau. Itulah jurus yang kugunakan dan sangat ampuh tiap kali bimbingan, tak peduli anggapan beliau yang penting  aku bisa bimbingan.
 Setiap bimbingan selalu kutanyakan kemungkinanku untuk ujian bulan desember.  Selang beberapa hari terdengar kata “kalau sudah selesai ya bisa to ujian desember” .  Itulah kata yang masih teringat dalam otakku, kata yang  keluar dari Mr. Perfectionis itu. Semangat ku pun semakin ku pompa agar skripsi ku cepat selesai dan lagi-lagi kupastikan kemungkinanku untuk ujian Desember tiap kali bimbingan.
Subhanallah….
Aku dipastikan bisa ujian skripsi bulan Desember oleh beliau. Segera kuselesaikan revisi-revisi dari beliau. Pendaftaran kurang 5 hari lagi dan aku shock dibuat Mr. Perfectionist. Teori ku di obrak-abrik.
 Rabbana….. Jika Engkau menghendaki hamba ujian Desember maka mudahkanlah hamba-Mu ini ya Rabb.. La Haulawala Quwwata Illa Billah….. kalimat yang setiap hari keluar dari bibir ini. Orangtuaku yang tak henti-hentinya memberikan support dan meyakinkan aku untuk bisa ujian bulan desember. H-2 kuputuskan untuk bimbingan lagi berharap esok hari dapat ACC karena terakhir daftar. Bagai bunga yang tiba-tiba layu, skripsi ku belum juga di ACC, segera ku loby TU yang mengurusi pendaftaran skripsi dan Alhamdulilah….. senin aku dijanjikan ACC dan bisa ikut ujian Desember.
Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan dari Allah…. Serasa tak percaya aku bisa mengejar dan meyakinkan seorang perfectionist dalam waktu 2 minggu yang semula sangat kuragukan dengan waktu yang sependek itu.
Atas ijin Allah, dapat ku selesaikan skripsi dalam waktu 1 bulan dan mengejar Mr. Perfectionist dalam waktu sesingkat itu. Baru ku sadari, aku bisa mematahkan anggapan di kalangan mahasiswa baik senior maupun seangkatan yang menganggap ujian skripsi /proposal pasti lama kalau dapat dosen pembimbing beliau. Kata pepatah jawa “ Jer Basuki Mawa Bea”

Ibu Tercinta


Ibu….
Terimakasih terucap dari lubuk hati yang paling dalam. Engkau telah merawat aku sejak kecil, bahkan dari aku masih dalam kandunganmu engkau selalu menjaga aku sampai lahir dan sampai dewasa saat ini.
Entah bagaimana aku membalas jasamu. Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin engkau selalu dalam lindungan-Nya. Setiap kali aku sedih, aku selalu membayangkan wajahmu yang selalu tersenyum sekalipun engkau memikul beban yang sangat berat. Ya, setiap hari engkau berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi demi keluarga. Air mata ini pun tak bisa kubendung tatkala kulihat engkau sedang susah payah banting tulang tiap hari. Inginku selalu membantumu, inginku selalu di sisimu untuk meringankan pekerjaanmu, namun apalah daya. Aku mempunyai kewajiban untuk melanjutkan studi ku di bangku kuliah.
Ibu….
Didikanmu lah yang membuatku menjadi seperti sekarang. Kau ajarkan aku bagaimana harus bersabar, bagaimana me-manage uang, bagaimana menghadapi situasi mendesak, bagaimana mengurus rumah dengan baik, dll.
Ibu….
Tak pernah terputus olehmu untuk mendo’akan anak-anakmu, tak pernah sirna kasih sayang darimu, tak pernah lenyap pula perhatian darimu walaupun dalam hal-hal yang kecil sekalipun.
Tuhan,
kata “syukur” tak pernah berhenti dari mulutku ini. Terimakasih karena Kau telah memberikan seorang ibu yang sangat penyayang, penyabar, selalu bersyukur atas nikmat yang Kau limpahkan kepada keluargaku, seorang yang handal dalam mengatur waktu untuk bekerja dan mengurus keluarga.
Setiap hari, dari terbitnya sang fajar engkau memulai beraktivitas sebagai ibu rumah tangga, terkadang aku membantunya sekedar menyapu lantai dan halaman untuk meringankan pekerjaan rumah beliau. Ku ingin menggantikan posisimu agar istirahatmu lebih lama dan tak terasa capek. Namun, karena tugas kuliah dan yang lain aku menjadi sangat jarang untuk mengambil alih pekerjaan rumah ibu ku.
Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus yang saat ini masih menjadi tempatku untuk menimba ilmu, aku sangat prihatin karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak seperti dahulu kala yang serba kecukupan. Dari rasa prihatin itulah, alhamdulilah Allah mendengarkan do’a ku agar aku dapat membantu untuk membiayai pendidikanku. Aku ditawari menjadi mentor di Bimbel temanku. Tidak tanggung-tanggung, aku langsung diberi amanah kelas 3 SMA dan kelas 1 SMA. Saat pertama kali aku ragu untuk menjalankan amanah itu, tapi lambat laun seiring berjalannya waktu aku pun merasa enjoy dengan pekerjaan sambilanku ini. Aku rela dengan kesibukanku tersebut, karena demi satu tujuan, yakni untuk membantu orang tua dalam membiayai pendidikanku di jenjang universitas. Setiap hari sehabis kuliah, aku rela ngelesi dan mengesampingkan waktu ku dengan teman-teman kuliahku. Terkadang rasa iri dengan mereka muncul karena mereka bisa menghabiskan waktunya dengan teman-teman,. Rasa itu segera kuhapus dalam diriku agar aku bisa membantu ibu ku dalam membiayai kuliahku.
Ya Rabb…
Aku bersyukur karena Engkau telah memberikanku seorang Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku dan saudaraku. Rasa capek, lelah, dan letih tak dihiraukan olehnya. Setiap hari ku panjatkan doa untukmu Ibu agar kau senantiasa diberi kesehatan oleh-Nya, agar kau bisa istiqomah di jalan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya, dan semoga setiap tetes keringat dan rasa lelah dan letih dapat menghapus dosa-dosamu.
Ibu,
Aku bangga mempunyai ibu sepertimu. Kau yang serba bisa, ibu yang selalu ada untuk keluarga, ibu yang handal bagi anak-anakmu dan suamimu.
Ibu,
Terkadang aku berpikir jika kelak aku menjadi seorang ibu, apakah aku bisa menjadi ibu yang sabar, giat, selalu ada untuk keluarga, ibu yang handal untuk keluarga sepertimu.
Setiap hari, setelah kerja engkau tetap melaksanakan kewajibanmu sebagai ibu dimana engkau memasak untuk keluarga, membersihkan rumah. Kadang ku tak tega melihat pengorbananmu yang tiada terhitung jumlahnya.
Tuhan….
Aku rela mengesampingkan masa-masa muda ku untuk ngelesi, menjadi guru TPQ, jualan, dan bantu jaga toko di rumah hanya untuk satu tujuan mulia, yakni meringankan beban orang tua. Tiap hari ku lihat wajah ibu yang menahan rasa lelah dan letih karena seharian bekerja dan menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu. Tak terasa kulihat juga garis-garis halus di wajahmu yang menandakan semakin bertambahnya umurmu. Aku sangat menyayangimu ibu, ku ingin senantiasa membahagiakanmu. Kelak kalau aku sudah bekerja, aku akan memberikan sebagian dari gajiku untukmu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja keras terus-menerus sedangkan usiamu makin bertambah.
Ukhibbuki lillah umi…..