Jumat, 20 Januari 2012

Ibu Tercinta


Ibu….
Terimakasih terucap dari lubuk hati yang paling dalam. Engkau telah merawat aku sejak kecil, bahkan dari aku masih dalam kandunganmu engkau selalu menjaga aku sampai lahir dan sampai dewasa saat ini.
Entah bagaimana aku membalas jasamu. Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin engkau selalu dalam lindungan-Nya. Setiap kali aku sedih, aku selalu membayangkan wajahmu yang selalu tersenyum sekalipun engkau memikul beban yang sangat berat. Ya, setiap hari engkau berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi demi keluarga. Air mata ini pun tak bisa kubendung tatkala kulihat engkau sedang susah payah banting tulang tiap hari. Inginku selalu membantumu, inginku selalu di sisimu untuk meringankan pekerjaanmu, namun apalah daya. Aku mempunyai kewajiban untuk melanjutkan studi ku di bangku kuliah.
Ibu….
Didikanmu lah yang membuatku menjadi seperti sekarang. Kau ajarkan aku bagaimana harus bersabar, bagaimana me-manage uang, bagaimana menghadapi situasi mendesak, bagaimana mengurus rumah dengan baik, dll.
Ibu….
Tak pernah terputus olehmu untuk mendo’akan anak-anakmu, tak pernah sirna kasih sayang darimu, tak pernah lenyap pula perhatian darimu walaupun dalam hal-hal yang kecil sekalipun.
Tuhan,
kata “syukur” tak pernah berhenti dari mulutku ini. Terimakasih karena Kau telah memberikan seorang ibu yang sangat penyayang, penyabar, selalu bersyukur atas nikmat yang Kau limpahkan kepada keluargaku, seorang yang handal dalam mengatur waktu untuk bekerja dan mengurus keluarga.
Setiap hari, dari terbitnya sang fajar engkau memulai beraktivitas sebagai ibu rumah tangga, terkadang aku membantunya sekedar menyapu lantai dan halaman untuk meringankan pekerjaan rumah beliau. Ku ingin menggantikan posisimu agar istirahatmu lebih lama dan tak terasa capek. Namun, karena tugas kuliah dan yang lain aku menjadi sangat jarang untuk mengambil alih pekerjaan rumah ibu ku.
Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus yang saat ini masih menjadi tempatku untuk menimba ilmu, aku sangat prihatin karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak seperti dahulu kala yang serba kecukupan. Dari rasa prihatin itulah, alhamdulilah Allah mendengarkan do’a ku agar aku dapat membantu untuk membiayai pendidikanku. Aku ditawari menjadi mentor di Bimbel temanku. Tidak tanggung-tanggung, aku langsung diberi amanah kelas 3 SMA dan kelas 1 SMA. Saat pertama kali aku ragu untuk menjalankan amanah itu, tapi lambat laun seiring berjalannya waktu aku pun merasa enjoy dengan pekerjaan sambilanku ini. Aku rela dengan kesibukanku tersebut, karena demi satu tujuan, yakni untuk membantu orang tua dalam membiayai pendidikanku di jenjang universitas. Setiap hari sehabis kuliah, aku rela ngelesi dan mengesampingkan waktu ku dengan teman-teman kuliahku. Terkadang rasa iri dengan mereka muncul karena mereka bisa menghabiskan waktunya dengan teman-teman,. Rasa itu segera kuhapus dalam diriku agar aku bisa membantu ibu ku dalam membiayai kuliahku.
Ya Rabb…
Aku bersyukur karena Engkau telah memberikanku seorang Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya, rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku dan saudaraku. Rasa capek, lelah, dan letih tak dihiraukan olehnya. Setiap hari ku panjatkan doa untukmu Ibu agar kau senantiasa diberi kesehatan oleh-Nya, agar kau bisa istiqomah di jalan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya, dan semoga setiap tetes keringat dan rasa lelah dan letih dapat menghapus dosa-dosamu.
Ibu,
Aku bangga mempunyai ibu sepertimu. Kau yang serba bisa, ibu yang selalu ada untuk keluarga, ibu yang handal bagi anak-anakmu dan suamimu.
Ibu,
Terkadang aku berpikir jika kelak aku menjadi seorang ibu, apakah aku bisa menjadi ibu yang sabar, giat, selalu ada untuk keluarga, ibu yang handal untuk keluarga sepertimu.
Setiap hari, setelah kerja engkau tetap melaksanakan kewajibanmu sebagai ibu dimana engkau memasak untuk keluarga, membersihkan rumah. Kadang ku tak tega melihat pengorbananmu yang tiada terhitung jumlahnya.
Tuhan….
Aku rela mengesampingkan masa-masa muda ku untuk ngelesi, menjadi guru TPQ, jualan, dan bantu jaga toko di rumah hanya untuk satu tujuan mulia, yakni meringankan beban orang tua. Tiap hari ku lihat wajah ibu yang menahan rasa lelah dan letih karena seharian bekerja dan menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu. Tak terasa kulihat juga garis-garis halus di wajahmu yang menandakan semakin bertambahnya umurmu. Aku sangat menyayangimu ibu, ku ingin senantiasa membahagiakanmu. Kelak kalau aku sudah bekerja, aku akan memberikan sebagian dari gajiku untukmu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja keras terus-menerus sedangkan usiamu makin bertambah.
Ukhibbuki lillah umi…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar