Ibu….
Terimakasih
terucap dari lubuk hati yang paling dalam. Engkau telah merawat aku sejak
kecil, bahkan dari aku masih dalam kandunganmu engkau selalu menjaga aku sampai
lahir dan sampai dewasa saat ini.
Entah
bagaimana aku membalas jasamu. Aku mencintaimu karena Allah, aku ingin engkau
selalu dalam lindungan-Nya. Setiap kali aku sedih, aku selalu membayangkan
wajahmu yang selalu tersenyum sekalipun engkau memikul beban yang sangat berat.
Ya, setiap hari engkau berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi demi keluarga.
Air mata ini pun tak bisa kubendung tatkala kulihat engkau sedang susah payah
banting tulang tiap hari. Inginku selalu membantumu, inginku selalu di sisimu
untuk meringankan pekerjaanmu, namun apalah daya. Aku mempunyai kewajiban untuk
melanjutkan studi ku di bangku kuliah.
Ibu….
Didikanmu
lah yang membuatku menjadi seperti sekarang. Kau ajarkan aku bagaimana harus
bersabar, bagaimana me-manage uang,
bagaimana menghadapi situasi mendesak, bagaimana mengurus rumah dengan baik,
dll.
Ibu….
Tak
pernah terputus olehmu untuk mendo’akan anak-anakmu, tak pernah sirna kasih
sayang darimu, tak pernah lenyap pula perhatian darimu walaupun dalam hal-hal
yang kecil sekalipun.
Tuhan,
kata
“syukur” tak pernah berhenti dari mulutku ini. Terimakasih karena Kau telah
memberikan seorang ibu yang sangat penyayang, penyabar, selalu bersyukur atas
nikmat yang Kau limpahkan kepada keluargaku, seorang yang handal dalam mengatur
waktu untuk bekerja dan mengurus keluarga.
Setiap
hari, dari terbitnya sang fajar engkau memulai beraktivitas sebagai ibu rumah
tangga, terkadang aku membantunya sekedar menyapu lantai dan halaman untuk
meringankan pekerjaan rumah beliau. Ku ingin menggantikan posisimu agar
istirahatmu lebih lama dan tak terasa capek. Namun, karena tugas kuliah dan
yang lain aku menjadi sangat jarang untuk mengambil alih pekerjaan rumah ibu
ku.
Sejak
pertama kali aku menginjakkan kaki di kampus yang saat ini masih menjadi
tempatku untuk menimba ilmu, aku sangat prihatin karena keadaan ekonomi keluarga
yang tidak seperti dahulu kala yang serba kecukupan. Dari rasa prihatin itulah,
alhamdulilah Allah mendengarkan do’a ku agar aku dapat membantu untuk membiayai
pendidikanku. Aku ditawari menjadi mentor di Bimbel temanku. Tidak
tanggung-tanggung, aku langsung diberi amanah kelas 3 SMA dan kelas 1 SMA. Saat
pertama kali aku ragu untuk menjalankan amanah itu, tapi lambat laun seiring
berjalannya waktu aku pun merasa enjoy dengan pekerjaan sambilanku ini. Aku
rela dengan kesibukanku tersebut, karena demi satu tujuan, yakni untuk membantu
orang tua dalam membiayai pendidikanku di jenjang universitas. Setiap hari
sehabis kuliah, aku rela ngelesi dan mengesampingkan waktu ku dengan
teman-teman kuliahku. Terkadang rasa iri dengan mereka muncul karena mereka bisa
menghabiskan waktunya dengan teman-teman,. Rasa itu segera kuhapus dalam diriku
agar aku bisa membantu ibu ku dalam membiayai kuliahku.
Ya
Rabb…
Aku
bersyukur karena Engkau telah memberikanku seorang Ibu yang sangat menyayangi
anak-anaknya, rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku dan saudaraku. Rasa
capek, lelah, dan letih tak dihiraukan olehnya. Setiap hari ku panjatkan doa
untukmu Ibu agar kau senantiasa diberi kesehatan oleh-Nya, agar kau bisa
istiqomah di jalan-Nya, selalu dalam lindungan-Nya, dan semoga setiap tetes
keringat dan rasa lelah dan letih dapat menghapus dosa-dosamu.
Ibu,
Aku
bangga mempunyai ibu sepertimu. Kau yang serba bisa, ibu yang selalu ada untuk
keluarga, ibu yang handal bagi anak-anakmu dan suamimu.
Ibu,
Terkadang
aku berpikir jika kelak aku menjadi seorang ibu, apakah aku bisa menjadi ibu
yang sabar, giat, selalu ada untuk keluarga, ibu yang handal untuk keluarga
sepertimu.
Setiap
hari, setelah kerja engkau tetap melaksanakan kewajibanmu sebagai ibu dimana
engkau memasak untuk keluarga, membersihkan rumah. Kadang ku tak tega melihat
pengorbananmu yang tiada terhitung jumlahnya.
Tuhan….
Aku
rela mengesampingkan masa-masa muda ku untuk ngelesi, menjadi guru TPQ, jualan,
dan bantu jaga toko di rumah hanya untuk satu tujuan mulia, yakni meringankan
beban orang tua. Tiap hari ku lihat wajah ibu yang menahan rasa lelah dan letih
karena seharian bekerja dan menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu. Tak
terasa kulihat juga garis-garis halus di wajahmu yang menandakan semakin
bertambahnya umurmu. Aku sangat menyayangimu ibu, ku ingin senantiasa
membahagiakanmu. Kelak kalau aku sudah bekerja, aku akan memberikan sebagian
dari gajiku untukmu. Aku tidak ingin melihatmu bekerja keras terus-menerus
sedangkan usiamu makin bertambah.
Ukhibbuki
lillah umi…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar