Jumat, 13 April 2012

TEACHER - STUDENT


“Bu Indaaah……”
ku dengar panggilan itu dari ex murid ku tiap kali menjemput ibuku di pasar seusai kerja mencari nafkah.

Panggilan murid-muridku itulah yang sering membuat rindu untuk mengajar lagi di salah satu TPQ dekat rumahku. Aku dulu sempat mengajar di lembaga pendidikan islam tersebut sambil menyusun skripsi. Mata kuliah memang sudah terambil semua, sehingga aku hanya konsentrasi pada skripsiku. Hal itu membuat k setiap hari di rumah melulu sampai rasa boring menghampiri dalam diriku.

Suatu malam ketika aku bersinggah di kediaman bulek, ada info kalau sekolah madrasah tersebut membutuhkan tenaga pengajar. “Aku mau jadi pengajar di TPQ tersebut”…… spontan mulut ini nyeletuk bilang seperti itu. Aku memang type orang yang tidak betah menganggur btanpa aktivitas apapun, walaupun sebenarnya kalau di rumah aktivitas banyak banget menggantikan posisi ibu ku yang menjadi ibu rumah tangga. Aku pun segera menemui kepala yayasan pendidikan tersebut untuk menyampaikan niat baik ku.

Subhanallah… beliau welcome dengan niatanku untuk menjadi salah satu guru di yayasan yang dipegang beliau. Dalam kesepakatan tersebut aku mengutarakan bahwa skripsiku takkan mengganggu walaupun masi dalam proses penyusunan.

Hari pertama aku ngajar sempat shock setelah sampai kelas. Aku memang sudah terbiasa ngajar di depan kelas karena sejak semester dua aku sudah menjadi tentor di salah bimbel dekat rumah, selain itu aku juga menjadi asisten dosen di kampus tempat aku menimba ilmu. Kalau biasanya aku mengajar anak SMP sampai mahasiswa, namun kali ini yang kuhadapi adalah anak-anak TK sampai SD kelas tiga. Aku didampingi oleh kepala sekolah madrasah di hari pertama aku mengajar. Di kelas aku bengong karena lafadz-lafadz yang diucapkan sangat asing bagiku dan aku pun tak tahu apa yang dibaca barusan. (maklum guru baru, belum mengetahui kurikulum yang dipakai) #ngeles banget. J

Hari-hari mengajar ku lalui dengan penuh semangat. Murid-muridku itulah yang maembuatku semangat mengajar. “Unyu-unyu” adalah kata yang selalu ada di pikiranku ketika melihat kelas. Anak didikku memang nggemesin, sampai aku cubit pipi salah satu dari mereka. Terkadang rasa canggung untuk ngobrol dengan sesama guru disana muncul di benakku karena aku adalah guru termuda dan ada beberapa yang dulu merupakan guruku TPQ, karena aku adalah alumni disana.

Setelah kurang lebih setengah tahun aku menjadi guru di tempat ku mengajar, aku dihadapkan pada dua pilihan karena aku bekerja di KAP. Syukur alhamdulilah tak henti-henti keluar dari mulut ini karena aku dapat bekerja di KAP. Waktu itu aku mendapat job ngaudit di salah satu instansi dan harus ke instansi tersebut senin-jum’at. Jam kerja juga menyesuaikan jam kerja klien, yakni sampai jam 16.00 WIB. Jarak rumahku sampai klien kurang lebih satu jam kalau naik motor. Itu artinya kalau aku pulang jam segitu, aku ga’ bisa ngajar. Akhirnya kuputuskan untuk resign dari tempatku mengajar karena aku mau totalitas dalam bekerja dan  ga’ mau mengorbankan salah satu. Sebenarnya sangat berat rassanya  untuk resign disana, aku uda nyaman dengan lingkungannya, apalagi murid-muridku yang masih unyu-unyu walaupun tak jarang buat kenakalan di kelas.



MADRASAH PERTAMA BAGI ANAK


Sungguh miris melihat fenomena peran orang tua zaman sekarang. Mereka mengaku sayang kepada anak-anaknya sebagai buah hati mereka, namun mereka tak sadar bahwa mereka telah menjauhkan sang pemberi hidup dari jiwa anak-anak mereka.
Ya, tiap hari mereka mengajari buah hati mereka untuk keperluan pendidikan duniawi (SD, SMP, dan SMA), bahkan mereka rela mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya untuk biaya les atau yang lain. Tak jarang, ketika jadwal sekolah madrasah pun yang hanya satu jam saja per hari, orang tua rela anak-anaknya tidak masuk sekolah madrasah dengan alasan les pelajaran sekolah, les sepak bola, les piano, dan lain-lain. Sungguh menyayat hati  melihat fenomena itu, apalagi kesibukan orang tua mencari nafkah dari pagi sampai sore bahkan tak jarang pula yang sampai rumah dimana  matahari sudah tertidur di ufuk barat sehingga tak sedikit orang tua yang mengambil keputusan agar anak les pelajaran sekolah di bimbel dekat rumah atau bimbel terkemuka karena tidak ada waktu untuk mengajari anak. Mereka berdalih “ aku kan kerja untuk anak, demi kelangsungan hidup mereka. Jadi sah-sah saja kalau anak saya suruh les ini itu dan sekolah madrasah  aku pulang kerja dan  malam baru sampai rumah sehingga tidak sempat mengajari anak”. Kapan waktu yang diberikan untuk anak-anaknya, bukankah orang tua wajib mengajarkan ilmu agama kepada anak, dan anak pun berhak menerima perhatian dan pengajaran baik ilmu dunia maupun akhirat?  Sekolah umum, kuliah, les pelajaran sekolah, les voli, les piano, les drum, les bahasa asing dan sebagainya memang penting karena itu dapat menggali potensi mereka sehingga bisa dijadikan bekal kelak ketika dewasa. Akan tetapi sadarkah orang tua zaman sekarang? Hal itu tidak diimbangi dengan pengetahuan agama. Ya…. mungkin bagi mereka yang menyekolahkan madrasah anaknya dimana satu hari hanya satu jam, itupun tak jarang seminggu tidak masuk beberapa kali dengan alasan les ini itu sedangkan di rumah orang tua tak cukup waktu hanya untuk sekedar mengajarkan ilmu agama.
            Tulisan diatas terinspirasi ketika mendengar salah satu pengakuan dari anak kecil yang belajar ngaji namun lebih dari seminggu dia tidak menunjukkan peningkatan mengajinya. Ternyata di rumah dia hanya diajarkan pendidikan duniawi saja, sedangkan ilmu agama jarang diajarkan.
            “Seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”
            Bagi kaum hawa yang akan menjadi calon istri dan calon ibu, apakah kalian rela jika anak-anak kita kelak ahli ilmu duniawi dan miskin ilmu akherat? Tentu saja tak ada yang rela dengan hal itu.