“Bu
Indaaah……”
ku
dengar panggilan itu dari ex murid ku tiap kali menjemput ibuku di pasar seusai
kerja mencari nafkah.
Panggilan
murid-muridku itulah yang sering membuat rindu untuk mengajar lagi di salah
satu TPQ dekat rumahku. Aku dulu sempat mengajar di lembaga pendidikan islam
tersebut sambil menyusun skripsi. Mata kuliah memang sudah terambil semua,
sehingga aku hanya konsentrasi pada skripsiku. Hal itu membuat k setiap hari di
rumah melulu sampai rasa boring menghampiri dalam diriku.
Suatu
malam ketika aku bersinggah di kediaman bulek, ada info kalau sekolah madrasah
tersebut membutuhkan tenaga pengajar. “Aku mau jadi pengajar di TPQ tersebut”……
spontan mulut ini nyeletuk bilang seperti itu. Aku memang type orang yang tidak
betah menganggur btanpa aktivitas apapun, walaupun sebenarnya kalau di rumah
aktivitas banyak banget menggantikan posisi ibu ku yang menjadi ibu rumah
tangga. Aku pun segera menemui kepala yayasan pendidikan tersebut untuk
menyampaikan niat baik ku.
Subhanallah…
beliau welcome dengan niatanku untuk menjadi salah satu guru di yayasan yang
dipegang beliau. Dalam kesepakatan tersebut aku mengutarakan bahwa skripsiku
takkan mengganggu walaupun masi dalam proses penyusunan.
Hari
pertama aku ngajar sempat shock setelah sampai kelas. Aku memang sudah terbiasa
ngajar di depan kelas karena sejak semester dua aku sudah menjadi tentor di
salah bimbel dekat rumah, selain itu aku juga menjadi asisten dosen di kampus
tempat aku menimba ilmu. Kalau biasanya aku mengajar anak SMP sampai mahasiswa,
namun kali ini yang kuhadapi adalah anak-anak TK sampai SD kelas tiga. Aku
didampingi oleh kepala sekolah madrasah di hari pertama aku mengajar. Di kelas
aku bengong karena lafadz-lafadz yang diucapkan sangat asing bagiku dan aku pun
tak tahu apa yang dibaca barusan. (maklum guru baru, belum mengetahui kurikulum
yang dipakai) #ngeles banget. J
Hari-hari
mengajar ku lalui dengan penuh semangat. Murid-muridku itulah yang maembuatku
semangat mengajar. “Unyu-unyu” adalah kata yang selalu ada di pikiranku ketika
melihat kelas. Anak didikku memang nggemesin, sampai aku cubit pipi salah satu
dari mereka. Terkadang rasa canggung untuk ngobrol dengan sesama guru disana
muncul di benakku karena aku adalah guru termuda dan ada beberapa yang dulu
merupakan guruku TPQ, karena aku adalah alumni disana.
Setelah
kurang lebih setengah tahun aku menjadi guru di tempat ku mengajar, aku
dihadapkan pada dua pilihan karena aku bekerja di KAP. Syukur alhamdulilah tak
henti-henti keluar dari mulut ini karena aku dapat bekerja di KAP. Waktu itu aku
mendapat job ngaudit di salah satu instansi dan harus ke instansi tersebut
senin-jum’at. Jam kerja juga menyesuaikan jam kerja klien, yakni sampai jam
16.00 WIB. Jarak rumahku sampai klien kurang lebih satu jam kalau naik motor.
Itu artinya kalau aku pulang jam segitu, aku ga’ bisa ngajar. Akhirnya
kuputuskan untuk resign dari tempatku mengajar karena aku mau totalitas dalam
bekerja dan ga’ mau mengorbankan salah
satu. Sebenarnya sangat berat rassanya untuk resign disana, aku uda nyaman dengan
lingkungannya, apalagi murid-muridku yang masih unyu-unyu walaupun tak jarang
buat kenakalan di kelas.